Pendidikan adalah Gerbang Menuju Kehidupan Lebih Baik

Defenisi awam pendidikan adalah suatu cara untuk mengembangkan keterampilan, kebiasaan dan sikap-sikap yang diharapkan dapat membuat seseorang menjadi warganegara yang baik dengan tujuan untuk mengembangkan atau mengubah kognitif, afektif dan psikomotor seseorang. Berdasarkan defenisi tersebut dapat ditegaskan bahwa pendidikan adalah gerbang menuju kehidupan yang lebih baik dengan memperjuangkan hal-ha terkecil hingga hal-hal terbesar yang normalnya akan dilewati oleh setiap manusia. Pendidikan adalah bekal untuk mengejar semua yang ditargetkan oleh seseorang dalam kehidupannya sehingga tanpa pendidikan maka logikanya semua yang diimpikan akan menjadi sangat sulit diwujudkan.

Kesuksessan tidak ada yang instan, semua butuh proses pendidikan yang panjang. Faktanya, memang tidak semua orang yang berpendidikan sukses dalam perjalanan hidupnya. Ada yang memiliki gelar S1 namun berprofesi sebagai tukang becak, ada yang sudah memiliki berderet gelar namun meringkuk di balik terali besi karena terjerat kasus korupsi. Namun, jika dilakukan perbandingan maka orang yang berpendidikan tetap jauh lebih banyak yang bisa mengecap kesuksesan daripada orang yang tidak pernah mengecap pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan adalah alat untuk mengembangkan diri, mental, pola pikir dan juga kualitas diri seseorang.

Jika orang yang sudah dibekali ilmu saja terbukti masih ada atau bahkan banyak yang mengalami kegagalan, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dibekali ilmu sama sekali? Logikanya sudah pasti mereka akan lebih kesulitan dalam mengembangkan hal-hal yang diminatinya dengan tujuan untuk mendapatkan level kehidupan yang lebih baik. Proses hidup membutuhkan teori, dan dengan pendidikan lah teori tersebut bisa didapatkan.

Jangan meyakini opini sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Apa pun alasannya setiap orang tetap membutuhkan pendidikan. Meski pendidikan tidak menjamin kesuksesan seseorang, namun pendidikan akan membekali Anda dengan kualitas diri yang lebih baik sehingga Anda akan lebih berpeluang untuk mendapatkan apa yang Anda cita-citakan. Pendidikan merupakan alat terpenting untuk merealisasikan semua impian Anda.

Kompetensi Guru Menurut Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G)

Kompetensi guru menurut Proyek Pembinaan Pendidikan Guru (P3G) antara lain :

  • Menguasai bahan
  • Mengelola program belajar mengajar
  • Mengelola kelas
  • Menggunakan media/sumber belajar
  • Menguasai landasan kependidikan
  • Mengelola interaksi belajar mengajar
  • Menilai prestasi belajar
  • Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan
  • Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
  • Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.

Tanggung Jawab Guru dalam Mengembangkan Profesinya

Tanggung jawab guru dalam mengembangkan profesinya antara lain :

  1. Guru bertugas sebagai pengajar
  2. Guru bertugas sebagai pembimbing
  3. Guru bertugas sebagai administrator kelas
  4. Guru bertugas sebagai pengembang kurikulum
  5. Guru bertugas untuk mengembangkan profesi
  6. Guru bertugas untuk membina hubungan dengan masyarakat

Keterampilan Guru dalam Proses Belajar Mengajar

Keterampilan guru dalam proses belajar mengajar antara lain :

  1. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
  2. Keterampilan menjelaskan
  3. Keterampilan bertanya
  4. Keterampilan memberi penguatan
  5. Keterampilan menggunakan media pembelajaran
  6. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
  7. Keterampilan mengelola kelas
  8. Keterampilan mengadakan variasi
  9. Keterampilan mengajar perorangan dan kelompok kecil

Enam Pertanyaan Mudah Namun Sulit Dijawab

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lainnya. Manusia diberi akal agar dapat dijadikan alat untuk membedakan mana yang baik dan yang tidak baik. Yang pantas dan tidak pantas. Menusia juga mampu memilih jalan yang terbaik untuk hidupnya. Oleh karena itu, manusia akan diberi ganjaran, baik surga maupun neraka. 

Karunia manusia berupa kesempurnaan ini tidak selamanya menjadi nilai baik bagi kehidupannya. Sehingga semasa hidupnya manusia senantiasa disuruh bertafakur atas apa yang sudah dilakukannya dan berjanji agar tidak mengulangi semua perilaku yang tidak pantas serta mengisi hidupnya dengan perbuatan baik. 

Ada dialog antara seorang guru dan siswanya yang dapat kita jadikan pedoman agar hidup  ini lebih baik lagi. Guru mengajukan enam pertanyaan kepada siswanya.  Pertanyaan yang mudah namun sulit dijawab dan pertanyaan-pertanyaan tersebut cenderung kita lupakan.

Pertama, apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini ? Siswa menjawab, orang tua, sahabat dan kerabat. Salah, kata guru tersebut.Yang dekat dengan kita di dunia ini adalah kematian. Sebab kematian pasti adanya bagi semua manusia dan kapanpun bisa terjadi.

Bagi manusia, melihat kematian, bertakziah adalah nasihat yang sangat ampuh untuk menyadarkan diri bahwa ada saatnya hidup ini berhenti dan berakhirlah segalanya. Kita sering lupa mengingat mati, menyebabkan kita sering terjerumus dalam dosa. Dan orang yang selalu menyandarkan kematian sebagai teguran bagi hidupnya tidak akan pernah memberikan peluang kepada dirinya berlaku dosa dan tercela di sisi Allah SWT.

Kedua, guru melanjutkan, apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini. Siswa menjawab, Negeri Cina, bulan, dan matahari. Salah, jawab guru tersebut. Yang paling jauh dari diri kita saat ini adalah masa lalu. Siapapun kita, bagaimanapun kita dan betapa hebatnya kita, tetap kita tak akan pernah kembali ke masa lalu. Oleh karena itulah mengapa kita harus memastikan hari ini dan hari akan datang menjadi hari yang terbaik bagi kita.

Masa lalu hanya akan menghadirkan kenangan, apakah yang baik atau buruk, yang selalu menimbulkan penyesalan atau kebahagiaan. Namun, betapa hebatnya masa lalu, tetap tidak ada seorangpun yang dapat kembali ke masa lalu. Untuk itulah mengapa ketika berkaitan dengan masa lalu, kita seharusnya menyesali jika itu berkaitan dengan dosa, dan mempertahankannya jika itu berkaitan dengan kebaikan. Sebab masa lalu yang baik, seharusnya menjadi pembelajaran yang hebat bagi semua orang.

Ketiga, apa yang paling besar di dunia ini tanya guru tersebut melanjutkan, lalu siswa menjawab, gunung, bumi dan matahari. Bukan, jawab guru, yang paling besar di dunia ini adalah nafsu. banyak manusia menjadi celaka karena menuruti hawa nafsu. Segala cara dihalalkan demi mendapatkan hawa nafsu.

Karena itulah mengapa disebutkan bahwa manusia yang paling berhasil dalam hidupnya adalah manusia yang dapat mengelola hawa nafsunya, bukan menahannya, tetapi menempatkan keinginan nafsu pada tempatnya. Nafsu bukanlah musuh manusia, namun manusia yang hanya mengedepankan keinginan nafsu belaka akan tertindas dengan kearifan dan kebaikan yang seharusnya dia lakukan. Maka, permasalahan besar manusia bukanlah pertentangan orang, tapi permasalahan mengelola hawa nafsunya. 

Keempat, apa yang paling berat di dunia ini, lalu siswanya menjawab, baja, besi, dan gajah.  Lalu guru menjawab, salah, yang paling berat bagi manusia di dunia ini adalah berjanji. Sebab janji adalah hal yang mudah di ucapkan tapi sulit dilakukan.

Banyak manusia yang putus ikatan persaudaraan karena janji, dan terjadinya ketidakharmonisan antargolongan dan kelompok juga karena janji, sebab janji melibatkan kepercayaan (trust). Jika kepercayaan diingkari, maka tidak ada satu pekerjaanpun yang akan bermakna. Inilah mengapa janji adalah hal yang paling berat dilakukan. Untuk itu, berjanjilah jika merasa mampu dengan melibatkan kekuasaan Allah sebagai Maha Penentu. Dan berusahalah tanpa berjanji, jika diragukan janji tersebut sulit dilaksanakan.

Kelima, apa yang paling ringan di dunia ini, lalu siswa menjawab, angin dan debu. Salah, jawab guru, yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan ibadah. Ibadah seharusnya menjadi sarana kedekatan manusia terhadap Tuhannya yang sangat tulus dan ikhlas tanpa ada keberatan dalam melaksanakannya. Jika seorang hamba sudah merasa ibadah adalah sesuatu yang memberatkan, maka akan sangat ringanlah untuk meninggalkan ibadah. Oleh karenanya, bagi orang-orang yang sudah terbiasa meninggalkan ibadahnya, maka pelatihannya adalah berusaha menyadari bahwa ibadah yang dilakukan dengan kekhusyukan akan melahirkan kenikmatan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Keenam, apakah yang paling tajam di dunia ini, lalu siswa menjawab, pisau. Guru pun menjawab lagi, yang paling tajam di dunia ini adalah lidah. Karena melalui lidah manusia dengan mudahnya memfitnah dan menyakiti hati, melukai perasaan orang. Luka yang disebabkan lidah akan sangat sulit terobati jika belum ada ketulusan meminta maaf dan memaafkan.

Lalu, guru pun menutup pertanyaannya dengan sebuah kesimpulan, bahwa keenam hal ini yang sebenarnya sangat mudah bagi kita namun sangat sulit menerapkan dan memanfaatkannya dengan baik. Oleh karena itulah, mengapa dijelaskan, manusia yang sempurna adalah manusia yang mengambil hikmah dari setiap hal yang ia dengarkan. Semoga kita menjadi orang-orang yang beruntung. Amin. 

Peran Kepala Sekolah Sebagai Leader

BAB  1

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang Masalah

Keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuannya merupakan refleksi dari keberhasilan kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah. Sebagai kekuatan sentral yang menjadi penggerak kehidupan sekolah, kepala sekolah harus memahami tugas dan fungsinya demi keberhasilan sekolah serta memiliki kepedulian kepada para guru, staf dan peserta didik. Wahyusumidjo (2007:81) menjelaskan bahwa kepala sekolah yang berhasil apabila memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peran kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.

Salah satu variabel penting yang harus dimiliki seorang kepala sekolah dalam menjalankan roda kepemimpinannya adalah kemampuan sebagai leader (pemimpin). Sebagai leader kepala sekolah harus mampu memberdayakan semua potensi dan sumber daya yang ada di sekolah terkait dengan berbagai program pembelajaran, proses evaluasi, pengembangan kurikulum, pengelolaan tenaga kependidikan, sarana prasarana, pelayanan terhadap peserta didik, hubungan dengan masyarakat, sampai pada penciptaan iklim sekolah yang kondusif.

Kemampuan kepala sekolah sebagai leader akan semakin “diuji” oleh pola pikir dan tatanan hidup manusia yang berubah drastis dengan adanya globalisasi. Globalisasi telah mengubah cara hidup manusia sebagai individu, sebagai warga masyarakat dan sebagai warga negara. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari diri dari arus globalisasi. Kunandar (2007:37) memaparkan bahwa setiap individu dihadapkan pada dua pilihan, yakni dia menempatkan dirinya dan berperan sebagai pemain dalam arus perubahan globalisasi, atau dia menjadi korban dan terseret derasnya arus globalisasi.

   Arus globalisasi juga masuk dalam wilayah pendidikan dengan berbagai implikasi dan dampaknya, baik positif maupun negatif. Dalam konteks ini tugas kepala sekolah sebagai pemimpin dalam dunia pendidikan akan semakin berat dari hari ke hari, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kepala sekolah dituntut untuk mampu memberdayakan semua potensi dan sumber daya yang ada di sekolah agar dapat mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan kepala sekolah sebagai leader, yang mampu memengaruhi orang lain untuk bertindak seperti yang diharapkan, maka sekolah akan menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri.  Sekarang dan ke depan sekolah  harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara keilmuan maupun secara sikap mental. Kepala sekolah diharapkan mampu melakukan perannya dengan lebih optimal lagi.

 B.      Ruang Lingkup Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas maka maka ruang lingkup penulisan karya ilmiah ini adalah bagaimana peran kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) menghadapi tantangan globalisasi dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.

C.       Tujuan dan Manfaat

Tujuan karya tulis ilmiah ini adalah :

  1. Untuk meningkatkan upaya kepala sekolah dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas.  
  2. Untuk meningkatkan pemahaman kepala sekolah terhadap tantangan globalisasi yang semakin deras.
  3. Untuk memotivasi kepala sekolah agar  menjadi pemimpin yang selalu memiliki kamampuan menyesuaikan diri terhadap stuasi dan kondisi yang selalu berubah.

 Manfaat karya tulis ilmiah ini adalah :

  1. Sebagai bahan masukan bagi penulis untuk menambah wawasan berpikir mengenai kepemimpinan dan tantangan globalisasi.
  2. Sebagai bahan masukan bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Deli Serdang untuk menciptakan kepala sekolah yang siap menghadapi tantangan globalisasi melalui kegiatan-kegiatan pelatihan, pemagangan,  studi banding,  dan pemenuhan  sumber  bacaan tentang dunia pendidikan yang lengkap.

D.  Kajian Teori 

a.      Kepemimpinan dan Keberhasilan Kepala Sekolah

Ada tiga hal penting dari kepemimpinan: (1) kepemimpinan menyangkut orang lain, bawahan atau pengikut dan kesediaan mereka untuk menerima pengarahan dari pemimpin, (2) kepemimpinan menyangkut suatu pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok, karena para pemimpinlah yang mempunyai wewenang untuk mengarahkan kegiatan para kelompok, tetapi kelompok tidak dapat mengarahkan kegiatan para pemimpin secara langsung, (3) pemimpin tidak hanya memerintah bawahan apa yang harus dilakukan tetapi juga dapat memengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintahnya. Seperti yang dipaparkan Robbins (2007:432) bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.

Sementara itu, Usman (2008:275) mengatakan  kepemimpinan  ialah ilmu dan seni memengaruhi orang atau kelompok untuk bertindak seperti yang diharapkan dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Lebih lanjut, Usman menguraikan kepemimpinan sebagai seperangkat sifat-sifat (traits) yang esensi kepemimpinannya, efektif atau tidak efektif tergantung sifat-sifat yang dimiliki pemimpin sejak lahir. Sedangkan perspektif perilaku terfokus pada perilaku pemimpin yang dapat diamati. Gaya bersikap dan bertindak tampak dari cara melakukan sesuatu, seperti: cara memerintah, cara mengambil keputusan, cara memotivasi, cara berkomunikasi, cara berkoordinasi, dan sebagainya.

Keberhasilan seorang kepala sekolah dapat dilihat dari beberapa indikator,  seperti yang dipaparkan oleh Wahjosumidjo (2007:106-107) : (1) kemampuan kepala sekolah memberi perlakuan sama terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya, sehingga tidak terjadi diskriminasi, sebaliknya dapat diciptakan semangat kebersamaan, (2)  selalu memberi sugesti atau saran sehingga dapat memelihara bahkan meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugas masing-masing, (3)  bertanggung jawab untuk memenuhi atau menyediakan dukungan yang diperlukan oleh para guru, staf, dan siswa, baik berupa dana, peralatan, waktu, bahkan suasana yang mendukung, (4) mampu menumbuhkan  dan menggerakkan semangat para guru, staf, dan siswa dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan adanya kemampuan kepala sekolah seperti yang tertera di atas, maka akan muncul sekolah yang unggul, yang memiliki beberapa ciri, seperti : (1) memiliki kepala sekolah yang dinamis dan komunikatif dengan visi misi menuju pendidikan yang unggul, (2) memiliki guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah dalam melaksanakan tugas profesionalnya secara inovatif, (3) memiliki siswa-siswa yang sibuk, bergairah, dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajaran, (5) serta adanya dukungan masyarakat dan orang tua yang sangat besar dalam menunjang pendidikan.

b.      Tantangan Globalisasi

Menurut http//.www.wikipedia org, globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi sebagai suatu proses sosial, proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Globalisasi dapat diartikan juga sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya,  namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.  Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.

Dengan adanya arus globalisasi yang melanda dunia saat ini, maka banyak tantangan yang harus disikapi kepala sekolah dengan tetap mengedepankan profesionalismenya dalam memimpin. Beberapa tantangan globalisasi tersebut, seperti: (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar, (2) krisis moral yang sering melanda peserta didik, (3) krisis sosial, seperti kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan yang terjadi dalam lingkungan kehidupan peserta didik, (4) krisis identitas yang muncul pada peserta didik, yang kadang merasa malu menjadi warga negara Indonesia, (5) adanya lintas budaya, baik tingkat ASEAN, Asia Pasifik, maupun Dunia.

 

 

BAB  II

PEMBAHASAN

A.    Keberhasilan Kepala Sekolah sebagai Leader (Pemimpin)

Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam memimpin sekolahnya dapat dilihat dari produk yang dihasilkan oleh proses transformasi kepemimpinannya, seperti : (1) penampilan para guru dan peserta didik, (2) tercapainya tujuan pendidikan di sekolah, (3) pertumbuhan prestasi sekolah, (4) muncul kepuasan terhadap kepemimpinan kepala sekolah, (5) muncul tanggung jawab terhadap tujuan sekolah, (6) muncul dukungan dari para guru dan pegawai terhadap kedudukan dan jabatan kepala sekolah.

Kemampuan kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) merupakan salah satu kunci keberhasilannya dalam meningkatkan mutu sekolah. Kepala sekolah berperan sebagai kekuatan sentral yang menjadi kekuatan penggerak kehidupan sekolah. Dalam kehidupan sehari hari kepala sekolah akan dihadapkan kepada sikap para guru, staf dan peserta didik yang mempunyai latar belakang kehidupan, kepentingan serta tingkat sosial budaya yang berbeda sehingga tidak mustahil terjadi konflik antarindividu bahkan antarkelompok. Dalam menghadapi hal semacam ini kepala sekolah harus bertindak arif, bijaksana, adil, tidak ada pihak yang dikalahkan atau dianakemaskan. Dengan kata lain sebagai seorang pemimpin kepala sekolah harus dapat memperlakukan sama terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya sehingga tidak terjadi diskriminasi, sebaliknya dapat diciptakan semangat kebersamaan diantara mereka.

Indikator kepemimpinan lainnya adalah kemampuan kepala sekolah memberi sugesti/saran  yang sangat diperlukan oleh para guru, staf dan peserta didik. Sehingga dengan saran/sugesti tersebut mereka selalu memelihara bahkan meningkatkan semangat bekerja, rela berkorban, serta rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugas masing-masing.

Seorang kepala sekolah selaku pemimpin akan menjadi pusat perhatian, artinya semua pandangan akan diarahkan ke kepala sekolah sebagai orang yang mewakili kehidupan sekolah, dimana dan dalam kesempatan apa pun. Oleh sebab itu, penampilan seorang kepala sekolah harus selalu dijaga integritasnya, selalu terpercaya, dihormati baik perkataan maupun perilakunya.  

B.     Sikap Kepala Sekolah sebagai Leader (Pemimpin) dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi

Kemampuan kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) akan semakin diuji keberhasilannya dengan munculnya perubahan pola pikir dan tatanan kehidupan manusia akibat adanya arus globalisasi. Globalisasi telah mengubah cara hidup manusia sebagai individu, sebagai warga masyarakat dan sebagai warga negara. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari diri dari arus globalisasi. Kepala sekolah akan menghadapi dua pilihan, yaitu menempatkan organisasi sekolah dan berperan sebagai pemain dalam arus perubahan globalisasi atau akan membawa organisasi sekolah sebagai korban dan terseret derasnya arus globalisasi.

Keputusan kepala sekolah untuk mengambil pilihan pertama merupakan keputusan yang sangat bijaksana demi meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dengan cara mengikuti perkembangan arus globalisasi. Namun, kepala sekolah harus terlebih dahulu mempersiapkan diri dan mental dalam menerima inovasi-inovasi baru yang muncul dalam dunia pendidikan agar dapat menyesuaikan diri dalam proses kepemimpinan dan aspek lainnya di sekolah. Kepala sekolah harus memiliki wawasan serta pemahaman yang luas dalam memilih dan menerapkan nilai-nilai positif yang dibawa oleh arus globalisasi.  Nilai-nilai tersebut untuk selanjutnya ditransformasikan kepada para guru, staf dan peserta didik.  Dengan keahlian kepala sekolah memimpin dan membawa organisasi sekolah mengikuti perkembangan globalisasi ini maka akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, skill (keahlian), kematangan emosional, moral serta spiritual. Akhirnya,  akan dihasilkan generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamannya.

Beberapa tantangan globalisasi yang harus disikapi kepala sekolah dengan tetap mengedepankan mutu pendidikan di sekolahnya adalah sebagai berikut :

1.      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat dan mendasar.

Dengan kondisi ini kepala sekolah harus dapat menyesuaikan diri dengan responsif, arif, dan bijaksana. Responsif artinya kepala sekolah harus dapat memberdayakan dan memotivasi para guru untuk menguasai dengan baik produk iptek, terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan, seperti pembelajaran dengan menggunakan multimedia. Disamping itu, kepala sekolah diharapkan juga melengkapi sarana prasarana yang dibutuhkan guru dalam proses belajar mengajar di kelas. Bagi guru yang mengajar di kelas diharapkan dapat menggunakan media laptop dan internet sehingga proses belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan efektif dan interaktif, sehingga akan tercipta kondisi belajar yang menarik dan menyenangkan. Hal menarik lainnya dari penggunaan media laptop ini adalah terbantunya tugas guru piket. Jika ada guru yang berhalangan masuk ke dalam kelas, maka guru piket dapat memberikan materi pembelajaran dengan cara menayangkan materi pembelajaran (disesuaikan dengan mata pelajaran dari guru yang berhalangan masuk ke dalam kelas) melalui media laptop dan infocus. Peserta didik  dapat belajar sendiri melalui pengamatannya terhadap materi yang ditayangkan dan buku pegangan mereka. Tugas guru piket hanyalah sebagai fasilitator dan materi pembelajaran tidak tertinggal. Tanpa penguasaan iptek yang baik, maka guru akan tertinggal dan menjadi korban serta menjadi guru yang “ketinggalan zaman.

2.      Krisis moral yang melanda peserta didik.

Akibat pengaruh iptek dan globalisasi telah terjadi pergeseran nilai-nilai yang ada dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tradisional yang sangat menjunjung tinggi moralitas kini tergeser seiring dengan pengaruh iptek dan globalisasi. Pengaruh hiburan baik cetak maupun elektronik yang menjurus pada hal-hal pornografi telah menjadikan  peserta didik tergoda dengan kehidupan yang menjurus pada pergaulan bebas dan materialisme. Mereka sebenarnya hanya menjadi korban dari globalisasi yang selalu menuntut kepraktisan, kesenangan belaka (hedonisme) dan budaya instant. Arus globalisasi, terutama yang bersifat negatif, bila tidak disikapi dengan hati-hati akan menghancurkan peserta didik dengan perilaku-perilaku yang menyimpang. Peran kepala sekolah untuk mengingatkan  guru sangat dibutuhkan  agar  guru  selalu mengawasi/menjaga  peserta didik  untuk tetap menganut  nilai-nilai positif yang ada dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai tradisional yang sangat menjunjung tinggi moralitas. Ada baiknya kepala sekolah menyediakan film-film atau buku-buku yang memiliki muatan moral yang baik, yang dapat memotivasi peserta didik agar dapat menciptakan ide-ide kreatif dan menyalurkan aspirasi positif yang ada dalam diri peserta didik tersebut. Film-film dokumenter sejarah, agama, psikologi, ataupun tayangan National Geography yang banyak bercerita tentang ilmu pengetahuan. Sehingga diharapkan peserta didik memiliki “kesibukan” pola pikir yang lain selain berpikir untuk bergaya hidup bebas, hedonisme dan menerapkan budaya instan tadi. Kerja sama yang erat sangat diharapkan antara kepala sekolah dan para guru serta staf untuk selalu mengawasi semua kegiatan peserta didik agar terhindar dari “badai” krisis moral.

3.      Krisis sosial, seperti kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan yang terjadi dalam lingkungan kehidupan peserta didik.

Akibat perkembangan industri dan kapitalisme maka muncul masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Tidak semua lapisan masyarakat bisa mengikuti dan menikmati dunia industri dan kapitalisme. Mereka yang lemah secara pendidikan, akses, dan ekonomi akan menjadi korban ganasnya industrialisasi dan kapitalisme. Ini merupakan tantangan bagi kepala sekolah untuk merespon realitas ini.  Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang formal dan sudah mendapat kepercayaan dari masyarakat harus mampu menghasilkan peserta didik yang siap hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Dunia pendidikan harus menjadi solusi dari suatu masalah sosial (kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan) bukan menjadi bagian bahkan penyebab dari masalah sosial tersebut. Kepala sekolah harus mampu membuat kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler bagi peserta didik, seperti : olah raga, seni budaya, pramuka, KIR (Kegiatan Ilmiah Remaja), PMR, Pelatihan Kepemimpinan bagi Remaja, Koperasi Siswa, dll. Melalui aktivitas yang demikian “padat” diharapkan peserta didik dapat terhindar dari bahaya kriminalitas dan kekerasan. Alangkah lebih baik lagi jika mata pelajaran Muatan Lokal di sekolah benar-benar disesuaikan dengan kondisi alam yang ada di sekitar sekolah. Sehingga dapat menambah keterampilan peserta didik yang nantinya dapat dimanfaatkan bagi kehidupan mereka selanjutnya, misalnya : Elektronika, Pertanian, Peternakan, Pertukangan, Tata Boga, Tata Busana, dll.

4.      Krisis identitas yang muncul pada peserta didik, yang kadang merasa malu menjadi

         warga negara Indonesia.

Sebagai bangsa dan negara di tengah bangsa-bangsa di dunia,  dibutuhkan identitas kebangsaan (nasionalisme) yang tinggi dari warga negara Indonesia. Semangat nasionalisme dibutuhkan untuk tetap eksisnya bangsa dan negara Indonesia. Nasionalisme yang tinggi dari warga negara akan mendorong jiwa yang rela berkorban sehingga akan berbuat yang terbaik untuk bangsa dan negara. Dewasa ini ada kecenderungan menipisnya jiwa nasionalisme di kalangan peserta didik.  Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, seperti kurang apresiasinya peserta didik  pada kebudayaan asli bangsa Indonesia, pola dan gaya hidup yang lebih kebarat-baratan, dan beberapa indikator lainnya. Melihat realitas di atas kepala sekolah harus dapat memberdayakan guru untuk bersama sama berperan sebagai penjaga nilai-nilai, termasuk nilai nasionalisme. Nilai nasionalisme ini  harus dapat memberikan kesadaran kepada peserta didik akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepala sekolah dapat melakukan lomba-lomba seni budaya, dimana peserta didik menampilkan kreasi tari, lagu, maupun pakaian daerah yang ada di Indonesia. Lomba tersebut dapat dilakukan di setiap akhir semester, saat mengisi waktu setelah ujian semester selesai. Kepala sekolah dapat menunjuk guru yang memiliki keahlian dan keterampilan di bidang seni budaya ini. Dengan adanya kegiatan seperti ini diharapkan peserta didik dapat lebih mengenal budaya yang ada di nusantara sehingga akan muncul rasa cinta dan bangga dalam hati mereka. Seperti kata pepatah “tak kenal maka tak sayang.”

5.      Adanya lintas budaya bebas, baik tingkat ASEAN, Asia Pasifik, maupun Dunia.

Kondisi di atas membutuhkan kesiapan yang matang terutama dari segi kualitas sumber daya manusia. Dibutuhkan SDM yang handal dan unggul yang siap bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dunia pendidikan mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam menciptakan SDM yang digambarkan seperti di atas. Oleh karena itu, dibutuhkan sosok kepala sekolah yang mampu menciptakan guru-guru yang visioner, kompeten, dan berdedikasi tinggi sehingga mampu membekali peserta didik dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang sedang dan terus berubah. Tugas kepala sekolah untuk selalu mengadakan pelatihan-pelatihan bagi guru di sekolah atau mengikutsertakan guru dalam kegiatan-kegiatan yang dapat menambah wawasan guru di Depdikbud atau di luar lingkungan Depdikbud. Pelatihan merupakan metode yang paling banyak dipakai untuk meningkatkan kompetensi seseorang.

 

 

 

BAB  III

PENUTUP 

A.      Kesimpulan dan Saran

  1. Kemampuan kepala sekolah sebagai leader (pemimpin) merupakan salah satu kunci keberhasilannya dalam meningkatkan mutu sekolah. Sebagai leader kepala sekolah harus mampu memberdayakan semua potensi dan sumber daya yang ada di sekolah.
  2. Dalam menghadapi tantangan globalisasi maka kepala sekolah harus memotivasi guru agar menguasai iptek yang berkaitan dengan dunia pendidikan, seperti pembelajaran dengan menggunakan multimedia.
  3. Peran kepala sekolah bersama para guru sangat dibutuhkan untuk tetap mengingatkan peserta didik akan nilai-nilai positif yang ada dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai tradisional yang sangat menjunjung tinggi moralitas.
  4. Dunia pendidikan harus menjadi solusi dari suatu masalah sosial (kriminalitas, kekerasan, pengangguran, dan kemiskinan) bukan menjadi bagian bahkan penyebab dari masalah sosial tersebut.
  5. Kepala sekolah bersama dengan para guru sebagai penjaga nilai-nilai termasuk nilai nasionalisme harus mampu memberikan kesadaran kepada peserta didik akan pentingnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
  6. Kepala sekolah harus mampu menciptakan guru-guru yang visioner, kompeten, dan berdedikasi tinggi sehingga dapat membekali peserta didik dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat yang sedang dan terus berubah.

B.     Saran

  1. Dalam proses rekrutmen kepala sekolah diharapkan pihak yang berkompeten yaitu Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Deli Serdang dapat menempatkan sosok kepala sekolah yang memiliki kualitas kepemimpinan dengan tiga penguasaan dasar, yaitu conceptual skills, human skills dan technical skills.
  2. Dalam proses rekrutmen kepala sekolah diharapkan agar rekomendasi untuk menjadi calon kepala sekolah, selain dari kepala sekolah dan pengawas  sekolah,  didapatkan juga rekomendasi dari guru sebagai teman sejawat calon kepala sekolah. Selain itu, tidak ada salahnya diperoleh rekomendasi dari peserta didik.
  3. Bagi kepala sekolah yang sedang melaksanakan tugas, sangat diharapkan untuk terus meningkatkan kompetensi diri baik dalam peningkatan kemampuan profesional, pembinaan pengajaran, maupun wawasan kepala sekolah dalam menghadapi dinamika sekolah sebagai birokrasi, sistem sosial, dan sekolah sebagai agen perubahan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Kunandar. 2007. Guru Profesional – Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan

               Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Edisi Revisi.

               Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

 

Robbins, S. P. 2007. Perilaku Organisasi. Edisi Kesepuluh. Alih Bahasa: Drs.

               Benyamin Molan. Indonesia : Macanan Jaya Cemerlang.

Usman, Husaini. 2008. Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan. Edisi

               Kedua. Jakarta : Bumi Aksara.

Wahyusumidjo.  2007. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoretik dan

               Permasalahannya. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

http//.www.wikipedia org 

 

Doa ku

Image